Satra
Bukanlah Sebatas Imajinasi
Seperti
yang dikatakan Ngurah Parsua dalam Penerbitan dan Bedah Buku Puisi Tuhan,
Ngurah Parsua mengatakan bahwa Karya Sastra lahir karena adanya sebuah imajinasi.
Namun, sekarang ini banyak masyarakat yang menganggap bahwa karya satra itu
hanyalah sebuah imajinasi atau khayalan seseorang. Sesungguhnya sastra bukanlah
hanya sebuah khayalan atau imajinasi, melainkan sastra adalah hasil dari sebuah
imajinasi yang dapat membuat diri kita berkreasi dan berekspresi kehidupan dengan
sebebas-bebasnya. Sastra awalnya lahir dari sebuah imajinasi seseorang, karena
dengan imajinasi seseorang dapat menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi
dirinya sendiri maupun orang lain.
Seperti
yang ada dalam buku Ngurah Parsua yang berjudul Karya Sastra dan Prosesnya,
Ngurah Parsua menceritakan bagaimana proses dia dalam menulis puisi yang
berjudul Pohon-Pohon di Tepi Jalan Cinta. Ngurah Parsua terinsinpirasi menulis
puisi ini ketika Ngurah Parsua sedang melewati jalan Bedugul-Singaraja,
kebetulan disana banyak orang-orang sedang bertamasya dan Ngurah Parsua saat
itu kebetulan sedang memperhatikan tanah pertanian yang membuat Ngurah Parsua
terpesona dengan tanamannya. Alam yang ada di Bedugul seolah-olah mendukung
perasaan damai dan mengetuk keheranan, sehingga membuat Ngurah Parsua tergugah
dan tersihir dengan keadaan alam yang ada saat itu. Dari sanalah timbul
inspirasi Ngurah Parsua untuk menciptakan sebuah karya sastra puisi yang
berjudul Pohon-Pohon di Tepi Jalan Cinta.
Dari
pengalaman yang diceritakan Ngurah Parsua dalam menulis puisinya, sesungguhnya
sastra adalah hasil dari sebuah imajinasi yang dapat diekspresikan dengan
sebebas-bebasnya sehingga tercipta sebuah karya. Kemudian karya tersebut
dikreasikan dengan gaya mereka masing-masing sehingga terciptalah sebuah karya
satra yang lebih baik. Sebuah karya sastra bukan hanya lahir dari sebuah
imajinaasi seseorang saja melainkan juga ada kreasi agar karya tersebut menjadi
lebih baik. Selain sastra hasil dari imajinasi dan proses kreasif seseorang,
jika kita mendalami sebuah sastra masih banyak manfaat yang belum disadari oleh
masyarakat untuk mempelajari sastra yang dapat menciptakan ide-ide dari
seseorang.
Jadi
sastra bukanlah imajinasi belaka, melainkan sastra adalah hasil dari sebuah
imajinasi yang dikreasikan sehingga menjadi sebuah karya yang baik dan dapat
menciptakan keindahan tanpa batas. Selain itu, sesungguhnya sastra juga
merupakan sebuah wadah untuk mencurakan, mengekspresikan, dan mengkreasikan apa
yang ada dalam imajinasi seseorang yang dapat memperjuangkan dan mengungkapkan
ide-ide. Ide- ide tersebut bisa berupa kritik
sosial, politik, budaya, dan pertahanan keaman dan permasalahan-permasalahan
yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Dalam Buku Karya Sastra dan Prosesnya
Ngurah Parsua mengungkapkan bahwa sastra itu
adalah ekspresi jiwa yang menggugah rasa. Satra ibarat padang rumput
yang luas, dan diatasanya berbagai kemungkinan bisa terjadi. Satra terbuka
lebar sebagai ajang kreativitas. Melihat dari hal tersebut sebenarnya sastra
dapat mengajak kita untuk mengungkapkan ide-ide dengan proses yang kreatif
untuk mengasah permasalahan-permasalahan yang terjadi dimasyarakat.
Terimakasih atas uraian dan pendapatnya.Saya setuju dengan uraian Pak Yogi M
BalasHapusmudah dipahami dan memang, maaf seperti saya pernah munilis artikel yang berjudul:Sastra Cermin Budaya. Sastra bukan sekedar fiksi biasa. Bisa menagndung kenyataan dan sebaliknya kenyataan bisa difiksikan, jadi Anda benar Sastra hasil imajinasi yang dikreasikan seorang sastrawan dan mengungkapkan ide-ide dengan keindahan tanpa batas. Sehingga kalau saya boleh memberi pernyataan agak ektrim (vulgar) sungguh malang bila tak mampu memahami keindahan sastra. Karena ia akan menghayati kehidupan tanpa rasa seutuhnya,Ketajaman rasa keindahan hidup yang sejati. Maka itu dikatakan salah satu fungsi sastra adalah mengasah ketajaman perasaan, di dalam merasakan hidup. Keindahan seperti itu, mengatasi keindahan bersifat materi. Saya setuju pendapat Anda keindahan tanpa batas. Terimakasih.